Jumat, 27 Maret 2009




Lejaren Hiller dilahirkan di New York City pada tanggal 23 Februari 1924. Ayahnya lebih dikenal sebagai fotografer yang mengkombinasikan seni dengan sains. Dia menyusun upacara wisuda sekolah menengah atasnya pada tahun 1941. Selama di sekolah menangah atas, dia belajar memainkan piano, klarinet dan saksofon dan menunjukkan ketertarikannya di bidang musik dan kimia. Dia belajar kimia di Princeton University mendapatkan gelar BA tahun 1944, MA pada 1946 dan Ph. D. Tahun 1947. Tesisnya berjudul, Struktur Kimia Selulosa dan Pati. Pada 1958, di memperoleh gelar M.Mus di University of Illinois, Urbana, IL.
Pada tahun 1947, dia melanjutkan penelitiannya mengenai sifat kimia selulosa di DuPont, Waynesboro, VA. Sementara itu, dia juga melanjutkan ketertarikannya pada bidang musik dengan menggubah beberapa lagu. Pada tahun 1952, dia bergabung ke Departemen Kimia University of Illinois di Urbana-Champaign. Dia menjadi Asisten Profesor di School of Music pada tahun 1958. Setahun kemudian, dia mendirikan dan memimpin Electronic Music Studio. Pada tahun 1961, dia dipromosikan menjadi Associate Profesor di School of Music, dan tiga tahun kemudian dia menjadi profesor. Pada tahun 1968, dia menjadi Frederick B. Slee Professor of Composition di State University of New York, Buffalo. NY. Dia menjabat Adjunct Professor of Science di SUNY pada tahun 1970 dan 1980, dia ditetapkan sebagai Birge-Cary Professor of Music.
Di DuPont, dia memperoleh paten suatu zat warna yang digunakan untuk pewarna serat akrilik seperti Orlon. Pekerjaan baru di bidang kimia polimer bersama Fred Wall di University of Illinois memperkenalkannya pada Illiac computer, yang mana dengan Illiac computer ini dia melakukan kalkulasi Monte Carlo untuk konformasi polimer. Dia bekerjasama dengan Leonard Isaacson, mahasiswa tingkat sarjana, yang juga bekerja sama dengan Wall group, untuk mengajarkan Illiac untuk menggubah musik. Dengan menggunakan teknik Monte Carlo untuk memilih nada dan aspek musik yang lain, dia mengaplikasikan aturan yang kompleks untuk menetapkan suatu musik yang cocok. Dia menulis buku teks kimia bersama Rolfe H. Herber dari Rutgers University tahun 1960.
Dia menikahi Elizabeth Hasley pada 18 April 1945 di Elkton, MD. Dia memiliki dua anak, satu anak perempuan, Amanda, dan satu anak laki laki, David. Dia meninggal pada tanggal 26 Januari 1994 di Buffalo.

Read More......

Kamis, 26 Maret 2009

Rekayasa Genetika

Bagaimana Teknik Rekayasa Genetika Diperoleh.

Jauh sebelum Charles R Darwin (Bapak Evolusi) menerbitkan buku fenomenalnya berjudul “On The Origin Of Species by Means of Natural Selection”, Manusia telah mempercayai bahwa terdapat proses penurunan sifat dari induk kepada keturunannya. Aristoteles (384-323 SM), menyatakan bahwa dalam mengubah organisme dari bentuk sederhana menjadi lebih kompleks dan sempurna adalah berdasarkan metafisika, Jean Baptiste Lamarck (1744-1829) menyatakan bahwa perubahan makhluk hidup justru dipengaruhi lingkungan, bukan pembawaan. Akan tetapi dibandingkan teori sebelumnya, Teori Darwin jauh lebih diterima karena menyertakan bukti-bukti atau fakta yang mendukung dan merupakan hasil penelitian ilmiah secara berpuluh-puluh tahun, teori ini juga mampu mendorong para ahli untuk kebenaran teori tersebut.
Semenjak Teori Darwin dikemukakan, perkembangan biologi maju lebih pesat, berbagai macam pertanyaan mengenai konsep penurunan sifat terjawab dengan lengkap. Bahkan sejak saat itu disiplin ilmu biologi mengenai penurunan sifat dipisahkan menjadi disiplin ilmu tersendiri yaitu genetika, disamping konsep sebelumnya tentang perubahan makhluk hidup yang berubah terus menerus (evolusi). Darwin (disetujui ataupun tidak) banyak memberikan masukan bermanfaat terhadap perkembangan biologi baik dalam hal konsep ataupun teknik penelitian yang dilakukannya. meskipun demikian, hingga saat ini terdapat konsep Darwin yang menjadi pokok perdebatan banyak kalangan, mengenai hal ini dalam Bab “Difficulties of the Theory” ia menulis: ” …Jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, mengapa kita tidak melihat sejumlah besar bentuk transisi di mana pun? Mengapa alam tidak berada dalam keadaan kacau-balau, tetapi justru seperti kita lihat, spesies-spesies hidup dengan bentuk sebaik-baiknya?….” menurut teori ini harus ada bentuk-bentuk peralihan dalam jumlah besar, tetapi mengapa kita tidak menemukan mereka terkubur di kerak bumi dalam jumlah tidak terhitung?…. dan pada daerah peralihan, yang memiliki kondisi hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan dengan kekerabatan yang erat? telah lama kesulitan ini sangat membingungkan saya”.
Pada perkembangan selanjutnya, genetika menjawab keraguan Darwin dengan fakta sebaliknya, Sulit sekali mengakui bahwa dalam perkembangan alamiah terdapat evolusi lompat species, melalui penelitian kacang ercis selama bertahun-tahun, Gregor Mendel (1866) menyatakan bahwa sifat makhluk hidup diturunkan dari induk kepada keturunannya. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya substansi Genetika sebagai faktor pembawa sifat, akan tetapi hasil penelitian tersebut justru mementahkan teori spesiasi Darwin, karena pada kenyataannya dibutuhkan waktu yang lebih lama serta spesies peralihan yang lebih banyak sebelum menghasilkan menghasilkan spesies yang baru.
Perkembangan genetika masa kini ditandai dengan penggunaan teknologi nano sebagai perangkat perubah penurunan sifat, keyakinan bahwa terdapatnya subjek tertentu yang merepresentasikan sifat individu yang dapat diturunkan diikuti dengan diketemukannya Gen (W.Johanssen) sebagai unit terkecil dalam faktor individu pembawa sifat. Gen terdapat dalam kromosom seseorang (W. Waldayer) berisikan substansi genetic yang merepresentasikan sifat seseorang secara utuh, Mengubah gen berarti mengubah sifat individu, dengan cara menemukan substansi yang tepat dan mengubahnya, maka kita dapat menghasilkan individu dengan sifat yang berbeda dari keturunannya, hal inilah yang kemudian dikembangkan sebagai teknik rekayasa genetika.
Teknologi rekayasa genetika semakin lama semakin berkembang pesat, sejak awal perkembangan biologi (genetika khususnya) menjadi sorotan dalam ilmu pengetahuan, manusia tetap menjadi objek penelitian, hal ini sebenarnya sesuai dengan tujuan ilmu untuk mempermudah kehidupan manusia, namun apa kemudian yang akan terjadi andaikata teknologi rekayasa genetika diterapkan sepenuhnya, akan lahir anak dari rahim yang berbeda dengan ibu pemilik sel telur aslinya, akan diciptakan manusia-manusia “tiruan” dalam bentuk dan sifat yang sama dengan garis keturunan yang tidak jelas, akan muncul jenis hewan yang bentuknya disesuaikan kebutuhan manusia; semangka tanpa biji, kambing berkaki pendek, ayam yang terus-menerus bertelur tanpa dibuahi dan sebagainya, tidakkah itu merusak biodiversitas dalam tatanan yang sudah ada sebelumnya?

Read More......

Jumat, 07 November 2008

Lo mEsTi taU nE...!!

jika anda berteriak terus menerus selama 8 tahun,
7 bulan dan 6 hari, energi yang anda keluarkan
akan cukup untuk memanaskan secangkir kopi.
(Ngapain? Nggak sebanding sama hasilnya.)

Jika anda kentut secara konsisten selama 6 tahun
9 bulan, anda akan menghasilkan gas yang cukup
untuk menciptakan energi yang diperlukan dalam
membuat bom atom. (Nah, kalo ini mendingan lah,
lebih sebanding.)

Membenturkan kepala ke tembok menghabiskan150
kalori setiap jamnya.

Semua beruang kutub kidal.

Seekor kecoa mampu bertahan hidup selama 9 hari
tanpa kepala, sebelum mati karena kelaparan.

Seekor kutu mampu melompat sejauh 350 kali panjang
badannya. Kira- kira sama dengan seorang manusia
melompat sejauh lapangan sepak bola.

Belalang sembah jantan tidak bisa membuahi betinanya
selama kepalanya masih menempel pada tubuhnya.
Sang betina harus memulai ritual seks dengan memenggal
kepala sang jantan.

Beberapa jenis singa mampu kawin sebanyak 50 kali
dalam sehari.

Read More......
FADLY_blog © 2008 Template by:
SkinCorner